BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �
Tampilkan postingan dengan label manajemen kesiswaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen kesiswaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2009

Siswa Bermasalah?

Siswa Bermasalah?
Posted by rhino
Published in Catatan Pendidikan

Tolok ukur keberhasilan seorang guru dapat ditentukan berdasarkan sikap dan perilaku anak-anak didiknya. Sebagai pendidik, seorang guru akan merasa berhasil apabila anak-anak didiknya mau bekerjasama dalam proses belajar mengajar. Makna kerjasama adalah bersama-sama melakukan tugas dalam rangka proses pembelajaran. Tetapi adakalanya sikap dan perilaku anak-anak didik menyebabkan seorang guru tidak tahan dan ingin cepat-cepat menyelesaikan sesi pembelajarannya.

Sebenarnya sikap dan tingkah laku anak-anak yang tidak mau bekerjasama merupakan dampak permasalahan dalam proses perkembangannya. Banyak anak yang bahkan harus kehilangan masa kanak-kanaknya karena orang tua yang sibuk. Sementara anak-anak lainnya dibesarkan oleh pengasuh(nanny). Anak-anak itu diharuskan mandiri sebelum waktunya, akibatnya mereka mengalami stress atau bahkan depresi.

Apa yang harus dilakukan seorang guru? Sebagai seorang pendidik di sekolah, guru dituntut berperan sebagai orang tua. Seorang guru harus mengerti bahwa dimanapun anak-anak berada, baik di sekolah maupun di rumah, tidak banyak bedanya. Berikut adalah tujuh opsi yang sangat bermanfaat dan efektif untuk diterapkan di rumah maupun di sekolah.

1. Memberi penjelasan apabila ada masalah atau kejadian insidentil di kelas. Misalnya, seusai kelas melukis ada cat air yang tumpah di lantai. Sebaiknya seorang guru berkata,”Lihat, di lantai ada tumpahan cat air”. Atau ketika guru mendapatkan kertas ujian tanpa nama. Sebaiknya seorang guru berkata,”Kenapa saya dapat kertas yang tidak ada namanya?” Juga apabila anak-anak asik ngobrol di kelas. Seorang guru boleh permisi keluar kelas sebentar untuk kemudian kembali dan mengatakan bahwa suara mereka sangat jelas terdengar sampai hall atau ruangan lain.

2. Berperan sebagai seorang informan. Misalnya, suatu hari guru menemukan ada meja yang dicoret atau anak-anak mencoret meja. Sebaiknya guru mengatakan bahwa meja bukan tempat untuk menuliskan sesuatu, tetapi kertas. Atau di kelas komputer ada anak yang menggoreskan sesuatu di atas disket komputer. “Disket komputer tidak bisa lagi dipakai jika tergores atau kotor”.

3. Memberikan pilihan/opsi. Misalnya, setelah seorang anak selesai membuat bentuk bangunan dengan balok atau lego, dia tidak mau membereskannya. “ Bagus sekali istana yang kamu buat! Pasti kamu akan membuat istana lagi besok. Kalau begitu kamu boleh menyimpan balok-balok itu di dalam rak yang sudah disediakan atau ke dalam kotak itu”.

4. Memberi perintah dengan pesan singkat atau satu kata. Misalnya, seorang anak tidak memulai kalimat dengan huruf besar. Katakan, “Huruf besar!” Atau setelah seorang anak membuka pintu tetapi tidak menutupnya kembali, “ Pintu!”.

5. Berkomunikasi dengan gerakan atau bahasa tubuh. Misalnya kelas sangat gaduh, seorang guru menempelkan jari telunjuknya ke mulut.

6. Mengungkapkan perasaan anda. Misalnya anda sedang menerangkan pelajaran, sementara anak-anak ngobrol. “ Saya merasa sedih dan frustrasi kalau tidak ada yang mau mendengarkan saya”.

7. Menyampaikan pesan atau perintah melalui tulisan. Misalnya guru menyediakan kotak dimana tugas-tugas dikumpulkan; di kotak tersebut dituliskan pesan “ Akan lebih baik kalau mencantumkan nama dan tanggal”.

Tags: guru, komunikasi, peserta didik, siswa bermasalah
Related Articles

Bantu Siswa Bermasalah, Ludacris Kunjungi Mantan Sekolahnya

Bantu Siswa Bermasalah, Ludacris Kunjungi Mantan Sekolahnya
Rabu, 14 Mei 2008 08:14

Ludacris
BERI KOMENTAR
CETAK BERITA INI
KIRIM KE TEMAN
KOMENTAR FANS LUDACRIS
Ikuti Kuis Berhadiah, King Vs Queen of Pop

Kapanlagi.com - Rapper yang juga menjajal sebagai aktor, Ludacris, akan kembali ke sekolah tempatnya menimba ilmu dulu untuk memberikan nasehat pada para siswa yang bermasalah.


Pada Selasa (13/5), Ludacris yang bernama asli Christopher Bridges, mengunjungi Benjamin Banneker Academic High School di Atlanta, Georgia, untuk memberikan pengarahan pada siswa bagaimana menghadapi kemelut remaja saat ini, termasuk pemerkosaan, perang antar geng, dan tekanan untuk menjual narkoba.


Menurut panitia penyelenggara Tory Edwards, para siswa bersiap menunggu kedatangan Ludacris dengan menulis surat yang berisi masalah mereka, yang akan diletakkan di keranjang sampah dan dibakar.


Ludacris juga menanam pohon di lingkungan sekolah, yang akan dinamai sesuai tempat olahraga yang dipersembahkan olehnya bernama Christopher Bridges Gym Of Dreams.


Kunjungan itu difilmkan sebagai serial dokumenter mengenai sang bintang berjudul Behind The Mic. (ctm/boo)

Penanganan Siswa Bermasalah

Penanganan Siswa Bermasalah
Tanggal: 12 Oktober 2008

Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah, dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah, khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling.


Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah, aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Kendati demikian, harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya.

Oleh karena itu, disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera, penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.






Dengan melihat gambar di atas, kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut, meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Oleh karena itu, kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi.

Sebagai ilustrasi, misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas, sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian, siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin, mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling, maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya, diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya, misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi, keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya, keinginan untuk melanjutkan sekolah, serta hal-hal positif lainnya, meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah.

Perlu digarisbawahi, dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah, dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.

Lebih jauh, meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan, pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). Dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya, sebagaimana dalam bagan berikut :
Masalah (kasus) ringan, seperti: membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah.
Masalah (kasus) sedang, seperti: gangguan emosional, berpacaran, dengan perbuatan menyimpang, berkelahi antar sekolah, kesulitan belajar, karena gangguan di keluarga, minum minuman keras tahap pertengahan, mencuri kelas sedang, melakukan gangguan sosial dan asusila. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor), dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah, ahli/profesional, polisi, guru dan sebagainya. Dapat pula mengadakan konferensi kasus.
Masalah (kasus) berat, seperti: gangguan emosional berat, kecanduan alkohol dan narkotika, pelaku kriminalitas, siswa hamil, percobaan bunuh diri, perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater, dokter, polisi, ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus.





Dengan melihat penjelasan di atas, tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal.

99 siswa ’bermasalah’ dikirim ke Baturraden

99 siswa ’bermasalah’ dikirim ke Baturraden

KAJEN - Sebanyak 99 siswa-siswi sekolah dasar (SD) kelas 4 dan 5 di Kabupaten Pekalongan telah dikirim ke Balai Latihan Satria di Baturraden, Banyumas, baru-baru ini. Mereka ini adalah anak-anak ‘bermasalah’, misalnya sulit belajar, minder, maupun hiperaktif di kelasnya, terdiri dari 67 siswa dan 32 siswi. Satu siswa lainnya batal diberangkatkan karena sakit.

Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Pekalongan, Syafrudin Huna menjelaskan, selama sebulan anak-anak tersebut akan mendapatkan pembinaan di Baturraden. Selama di lokasi, mereka didampingi empat guru pendamping dari Kabupaten Pekalongan.

”Anak-anak itu akan diberi pelajaran dan keterampilan, serta bimbingan psikologi anak. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Dinas Sosial dan PMKB dengan Dinas Pendidikan,” jelas Syafrudin Huna.
Menurutnya, anak-anak itu selama sebulan akan tinggal di asrama. Diharapkan, anak-anak ‘bermasalah’ tersebut sepulang dari pembinaan di Baturraden lebih giat lagi belajar dan memiliki keahlian dan kemampuan yang lebih baik.

”Saya juga sempat berpesan kepada para guru di sana (Baturraden, red) agar anak-anak ini diasah dan diasuh dengan benar, sebab kemampuan mereka beragam, ada yang pintar dan ada yang biasa-biasa saja,” tutur Syafrudin yang ikut mengantarkan 100 anak ini ke Baturraden.

Selektif
Syafrudin juga meminta agar instansi terkait ke depan agar lebih selektif dalam memilih pelajar yang akan dikirim ke Baturraden. Sebab, jika terjadi kasus salah kirim maka bisa berakibat vatal.
”Ke depan agar sekolahan dan instansi terkait tidak salah pilih, sebab bisa berakibat fatal. Anak-anak ini membutuhkan perhatian khusus. Dan kerja sama yang telah terjalin dengan pihak di Baturraden agar bisa lebih ditingkatkan,” ujar Syafrudin. haw-Tj

Minggu, 10 Mei 2009

Masuk Sekolah Negeri Kian Ketat

30.428 Lulusan SD/SMP Tak Tertampung
Bekasi, Warta Kota
Sebanyak 30.428 siswa lulusan SD dan SMP di Kota Bekasi dipastikan tidak tertampung di SMPN, SMAN, dan SMKN yang ada. Dengan demikian persaingan masuk ke sekolah negeri di Kota Bekasi makin ketat.
Saat ini daya tampung SMPN di Kota Bekasi sebanyak 13.238 siswa, sedangkan lulusan SD mencapai 26.000 siswa. Artinya sebanyak 12.763 siswa tidak tertampung di sekolah negeri. Lulusan SMP di Kota Bekasi mencapai 23.845 siswa tapi daya tampung di SMAN dan SMKN hanya 6.180 siswa. Sebanyak 17.665 siswa pun tak akan tertampung di SMAN dan SMKN.
Menurut Kasi Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Bekasi Dedi Junaedi, daya tampung tersebut tidak mungkin ditambah lagi. Hal itu karena berkaitan dengan program pendidikan gratis yang akan terus bergulir. Akibatnya persaingan siswa untuk masuk ke sekolah negeri di Kota Bekasi akan semakin ketat.
Bahkan dalam melakukan tes saringan masuk sekolah negeri, pihak Dinas Pendidikan Kota Bekasi bekerja sama dengan tim independen. Dalam tes ujian masuk yang akan dilakukan secara serentak untuk siswa SMP, SMA, dan SMK pada tanggal 2 Juli mendatang, mata pelajaran yang akan diujikan adalah bahasa Inggris, bahasa Indonesia, matematika, IPA, dan IPS.
Lebih lanjut Dedi mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan sejumlah sekolah swasta agar lebih mengoptimalkan perannya untuk menarik minat siswa ke sekolah swasta. ”Banyaknya siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri, tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi pengelola sekolah swasta. Sementara untuk orangtua siswa yang anaknya tidak lulus dalan ujian masuk sekolah negeri tidak perlu khawatir karena orangtua siswa masih dapat menyekolahkan anaknya di sekolah swasta,” ujar Dedi.
Sementara itu menurut Ketua Penerimaan Siswa Baru (PSB) Disdik Kota Bekasi Rahmat Kusmayadi, selain akan bersaing dengan kawan-kawan mereka yang bersekolah di Kota Bekasi, para siswa juga bakal bersaing dengan dengan siswa lulusan SD dan SMP dari wilayah lain yang juga mengincar sekolah negeri di Kota Bekasi. Pemerintah Kota Bekasi menyediakan kuota 10 persen dari daya tampung yang ada untuk siswa lulusan dari luar kota Bekasi.
Sementara itu menurut Ketua Komisi D DPRD Kota Bekasi Zubaidi Asnan, banyaknya siswa lulusan SD dan SMP yang bakal tidak tertampung di sekolah negeri tentunya akan menjadi keuntungan bagi sekolah swasta. ”Maka dari itu peran sekolah swasta harus dioptimalkan agar siswa yang tidak tertampung tersebut dapat melanjutkan di sekolah yang dikelola oleh pihak swasta. Dan saat inilah sekolah swasta menunjukkan performa yang terbaik kepada masyarakat Bekasi,” ujar Zubaidi. (mur)

manajemen kesiswaan

Ada tiga masalah utama yang perlu mendapat perhatian dalam bidang kesiswaan yaitu :

- Masalah penerimaan siswa baru

- Masalah kemajuan belajar dan evaluasi belajar

- Masalah bimbingan

Untuk masalah yang pertama setiap tahun dibentuk panitia penerimaan siswa baru. Panitia ini diserahi tugas untuk mengManajemenkan dan mengorganisasikan seluruh kegiatan penerimaan siswa baru. Pimpinan sekolah harus mampu memberi pedoman yang jelas kepada panitia agar penerimaan siswa baru ini berjalan dengan lancar.

Di samping itu sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap usaha mengembangkan kemajuan belajar siswa-siswanya. Kemajuan belajar ini secara periodik harus dilaporkan terutama kepada orang tua siswa. Ini semua merupakan tanggungjawab pimpinan sekolah. Oleh karena itu pimpinan harus tahu benar-benar kemajuan belajar anak-anak di sekolahnya, ia harus mengenal anak-anak beserta latar belakang masalahnya.

Laporan hasil kemajuan belajar hendaknya tidak dianggap sebagai kegiatan rutin saja, tetapi mempunyai maksud agar orang tua siswa juga ikut berpartisipasi secara aktif dalam membina belajar anak-anaknya.

Masalah yang juga erat hubungannya dengan kemajuan belajar ini ialah masalah bimbingan. Tugas sekolah bukan hanya sekedar memberi pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi sekolah harus mendidik anak-anak menjadi manusia seutuhnya. Oleh karena itu tugas sekolah bukan saja memberikan pelbagai ilmu pengetahuan tetapi juga membimbing anak-anak menuju ke arah kedewasaan. Dalam rangka ini maka tugas pimpinan sekolah ialah menyelenggarakan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. Dengan kegiatan bimbingan ini maka anak-anak akan ditolong untuk mampu mengenal dirinya, kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya. Anak-anak akan ditolong agar mampu mengatasi masalah-masalahnya yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. Dengan demikian diharapkan anak-anak akan dapat bertumbuh secara sehat baik jasmani dan rohaninya serta dapat merealisasikan kemampuannya secara maksimal.

Manajemen yang berhubungan dengan kesiswaan antara lain :

- Statistik presensi siswa

- Buku laporan keadaan siswa

- Buku induk

- Klapper

- Buku daftar kelas

- Buku laporan pendidikan (raport) catatan pribadi

- Daftar presensi, dsb.
Diposkan oleh cute cat's di 23:34
Label: manajeme kesiswaaan

Ruang lingkup manajemen kesiswaan

kesiswaan dan Pengelolaan siswa sebagai salah satu komponen dalam melaksanakan pendidikan ternyata sangat kompleks. Bila mengelola kurikulum atau sarana dan prasarana, contohnya, semua aspek yang tercakup dapat diprediksi dengan perhitungan-perhitungan eksak, tidak demikian halnya dalam menangani siswa. Sangat mungkin siswa baru dengan Nilai Ujian Nasional yang tinggi pada awalnya rajin sekolah, namun ketika sudah setengah tahun atau setahun bersekolah ada banyak perubahan yang terjadi dalam dirinya. Dari anak yang rajin menjadi pemalas dan semula anak alim, tahu-tahun menjadi suka berkelahi.

Ungkapan sederhana itu menggambarkan bahwa menangani siswa dibutuhkan kejelian, kepekaan, dan kemauan untuk mencurahkan perhatian secara khusus, sementara itu jumlah siswa mungkin sangat banyak. Untuk kepentingan itulah hal-hal yang bersangkut paut dengan permasalahan siswa harus dikuasai oleh pengelola sekolah.

Ada tugas-tugas yang cukup berat terkait mengelola kesiswaan. Di satu sisi sekolah harus mengembangkan dan meningkatkan potensi siswa yang dibawa dari rumah dan sengaja dititipkan ke sekolah agar dikelola dengan baik, sementara itu di sisi lain, sekolah juga menghadapi banyak kendala yang bertentangan dengan kemauan mulia tadi. Di satu sisi setelah seluk beluk penerimaan siswa baru dilaksanakan dengan baik anak akan dikembangkan bakat, minat, kreatifitas dan kemampuannya secara maksimal dengan melalui tata tertib dan kedisiplinan sebagai jembatan yang harus dilaluinya, tetapi di sisi sebaliknya pengaruh negatif yang datang dari televisi, bacaan, dan pergaulan masyarakat mereduksi upaya mulia itu. Untuk menangkal kondisi tidak ideal tadi, kegiatan belajar mengajar harus ditegakkan dengan baik, dan sistem laporan harus diberikan kepada orang tua, demi siswa terantar ke tujuan yang dicita-citakan. Semua komponen itu secara bersungguh-sungguh harus dikuasai pengeloa sekolah.

Kompetensi yang harus dipersiapkan dalam manajemen kesiswaan adalah :

1. Penerimaan Siswa Baru
2. Kegiatan Ekstrakurikuler
3. Disiplin Siswa
4. Kesiapan Belajar
5. Sistem Pelaporan Perkembangan Siswa
Diposkan oleh cute cat's di 23:44
Label: manajeme kesiswaaan

Kualitas SD Masih Diabaikan

Delapan Standar Belum Dipenuhi
Sabtu, 17 Mei 2008 | 00:44 WIB
Jakarta, kompas – Untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar, pemerintah terkesan lebih suka menempuh cara instan, antara lain dengan menyelenggarakan ujian akhir sekolah berstandar nasional atau UASBN. Delapan standar pendidikan di sekolah yang lebih penting justru diabaikan.
Penilaian ini dilontarkan Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia S Hamid Hasan dan pengamat pendidikan HAR Tilaar secara terpisah di Jakarta, Jumat (16/5). Menurut Hasan, sebelum menyelenggarakan UASBN, mestinya pemerintah memprioritaskan pemenuhan delapan standar nasional pendidikan untuk di sekolah.
Delapan standar itu adalah standar sarana dan prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar kompetensi lulusan, serta standar isi. Selanjutnya, standar proses, standar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan, serta standar penilaian pendidikan.
Menurut Hasan, jika ingin meningkatkan kualitas pendidikan, mestinya kualitas sekolah dulu yang dilihat. ”Apakah sudah sesuai standar pendidikan nasional yang ditetapkan atau belum?” ujarnya.
Jika belum, standar pendidikan nasional tersebut harus dipenuhi dulu secara bertahap. ”Kenyataannya, pemerintah lebih suka mengambil jalan pintas, yakni untuk meningkatkan kualitas pendidikan, lalu dilakukan UASBN untuk siswa setingkat sekolah dasar,” ujarnya.
Padahal, lanjutnya, UASBN hasilnya tidak akan optimal jika tidak didukung pemenuhan standar pendidikan nasional. Misalnya, soal gedung sekolah yang diatur dalam standar sarana dan prasarana pendidikan, hingga kini masih banyak bangunan sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah yang rusak parah. Kekurangan ruangan kelas umumnya mengorbankan pendidikan siswa kelas I dan II SD yang antara lain bentuknya berupa penggabungan dalam satu ruangan kelas. ”Padahal, pendidikan pada level ini sangat membutuhkan pembelajaran yang sungguh-sungguh,” ujarnya.
Belum lagi sekolah yang rusak ringan dan rusak parah. Dari data Depdiknas tahun 2006/2007, tercatat 475.986 ruangan kelas rusak ringan dan rusak berat.
Kondisi guru SD juga masih jauh dari sejahtera dan memenuhi kualifikasi guru profesional. Dari 1,25 juta guru SD, sebanyak 417.389 guru masih berpendidikan setaraf SMA dan yang berpendidikan D-1-D-3 sebanyak 624.404 guru.
Dengan kondisi guru yang masih jauh dari kualifikasi profesional tersebut, proses pembelajaran yang seharusnya diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, dan menyenangkan masih jauh dari harapan. Begitupun suasana pendidikan yang menantang dan memotivasi siswa untuk kreatif belum dapat diterapkan. Sekolah negeri umumnya masih menyajikan pembelajaran konvensional yang memandang siswa sebagai obyek yang harus disuapi ilmu dari guru di kelas.
Arah tidak jelas
HAR Tilaar mengatakan, arah kebijakan pendidikan Indonesia ini semakin tidak jelas. Proses belajar yang tercipta mulai tingkat SD mengandung nilai paksaan, menakut-nakuti, dan mengembangkan sikap terabas. Hak anak untuk berkembang sesuai potensi dan kemampuannya lewat pendidikan sedini mungkin justru semakin terabaikan.
”Padahal, setiap anak punya potensi masing-masing. Ada yang unggul di satu bidang, namun bisa jadi lemah di bidang lain. Sekarang dengan UASBN, semua siswa harus sama-sama menguasai tiga pelajaran yang diujikan. Potensi siswa tidak dimunculkan di sini,” ujarnya.
Menurut dia, jika di level SD saja pendidikan berkualitas tidak bisa dicapai, pasti akan berpengaruh pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. ”Mau tidak mau, arah pendidikan kita perlu dievaluasi kembali agar bisa memunculkan potensi siswa,” kata Tilaar. (ELN)

Tidak Boleh Ada Perpeloncoan Siswa Baru

Kamis, 10 Juli 2008 | 20:43 WIB
BANDUNG, KAMIS – Kegiatan belajar mengajar di tahun ajaran baru 2008/2009 dimulai serentak, Senin (14/7) mendatang. Di masa pengenalan sekolah, dilarang adanya praktik-praktik perpeloncoan. Sekolah pun diwajibkan melakukan pembinaan terhadap organisasi siswa untuk menghindarkan praktik negatif ini.
Kegiatan pengenalan yang biasanya diberi nama masa orientasi sekolah pun mulai tahun ini diganti menjadi Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sesuai dengan namanya, kegiatan lebih diarahkan untuk mengenalkan siswa dengan lingkungan sekolah mulai dari program, budaya, hingga kurikulum pembelajarannya.
Dikenalkan pula strategi pembelajaran yang efektif di sekolah. “Perpeloncoan itu dilarang,” ujar Kepala SMAN 2 Kota Bandung, Teddy Hidayat, Kamis (10/7). Kegiatan MPLS ini pun hanya berlangsung singkat, yaitu dua hari, berturut-turut Senin (14/7) dan Selasa (15/7). Ini diatur di dalam Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Nomor 421.7/530-PSMTH/2008.
Yang lebih positif, kegiatan latihan kepemimpinan siswa pun ikut dimasukkan di dalam rangkaian MPLS ini. Tepatnya, mulai 16-19 Juli ini. Menurutnya, kegiatan macam ini akan lebih bermanfaat bagi siswa. Sebab, materi pengenalan lingkungan sekolah yang disampaikan nantinya bisa menjadi bekal strategi siswa untuk berhasil dalam belajar.
Menyinggung soal potensi munculnya praktik perpeloncoan di sekolah, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMAN 5 Kota Bandung, Rahmat Effendi mengungkapkan, itu bisa dihindari lewat pembinaan dan sosialisasi memadai kepada para siswa senior di kelas XI dan XII. Ia optimis, di sekolahnya tahun ini tidak akan muncul perpeloncoan. Apalagi, sejak tahun-tahun sebelumnya, praktik negatif ini telah dilarang.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA se-Kota Bandung, Ajat Sudrajat mengungkapkan, antisipasi praktik perpeloncoan telah menjadi perhatian serius bersama para kepala sekolah. “Kepala-kepala sekolah dan para pembina kesiswaaan telah berkumpul dua hari lalu untuk membicarakan ini (MPLS). Dalam rapat ditegaskan lagi tidak boleh ada perpeloncoan,” ujarnya.
Ajat menjelaskan, para pembimbing pun telah diarahkan untuk melakukan kontrol pembinaan kepada siswa selama kegiatan MPLS berlangsung. “Yang dibolehkan adalah penegakan disiplin. Bukan perpeloncoan,” ucapnya kemudian. “Jika ditemui perpeloncoan oleh siswa, maka yang bersangkutan bisa dikenai sanksi pembinaan. Namun, masih dalam konteks yang edukatif,” sambungnya.
Perilaku agresif
Sri Rahayu Astuti, psikolog perkembangan remaja dari Universitas Padjadjaran, mengatakan, pada prinsipnya, usia remaja seperti siswa tingkat SMA berpotensi memiliki perilaku agresif. Perilaku yang mengarah intimidasi ke orang lain ini potensial muncul di perpeloncoan.
“Perilaku agresif ini tidak hanya dalam bentuk fisik misal kekerasan, melainkan juga verbal macam kata-kata ejekan,” katanya. Risiko perilaku agresif siswa lebih senior ini makin tinggi mengingat usia remaja adalah fase pengenalan diri dan emosi. Cara yang efektif mengatasi pesoalan ini adalah melalui bimbingan intensif dari orang dewasa.

Banyak Siswa Terlambat, Belum Terbiasa Masuk Pagi

Senin, 5 Januari 2009 | 08:53 WIB
JAKARTA, SENIN — Setelah libur sekolah sekitar dua minggu, pagi ini siswa dari SD hingga SMU mulai masuk sekolah. Jam masuk sekolah mereka pun bergeser dari yang biasanya pukul 07.00 menjadi pukul 06.30. Beberapa siswa belum terbiasa dengan peraturan baru tersebut dan terlihat ada beberapa anak yang terlambat.
“Tadi sih sudah pakai alarm, tapi masih juga kesiangan. Niatnya bangun pukul lima pagi, tapi jam setengah tujuh kurang malah baru bangun, mana orang tua juga gak ngebangunin, jadi deh jam tujuh baru masuk,” tutur Iwan (14), siswa kelas 3 SMPN 185, Kemandoran, Jakarta Barat.
Selain Iwan, tampak juga beberapa siswa baru masuk gerbang SMPN 185 Jakarta. Beberapa dari mereka mengaku kesiangan dan belum terbiasa bangun lebih awal terkait peraturan tersebut.
“Yah, saya sih tak terlalu setuju dengan peraturan masuk pukul 06.30 pagi, karena pulangnya pun malah nanggung, apalagi jam dua masih disambung ekstrakurikuler. Ada waktu satu jam lebih sebelum ekskul, kalau masuk jam tujuh, kan cuma nunggu setengah jam. Yang jelas, waktu istirahat jadi berkurang kan malah ngantuk di kelas,” tutur Indah (13), siswi kelas 3 SMPN 185 Jakarta.
Sedangkan menurut Andi (11), siswa kelas V SDN Palmerah 07 Pagi, masuk sekolah mulai pukul 06.30 tak mengganggu kebiasaannya masuk sekolah lebih pagi. “Kalau datang ke sekolah biasanya jam 06.30, jadi paling cuma geser lima belas menit berangkatnya. Rumah saya dekat dan tak perlu diantar orang tua, jadi enggak masalah,” jelasnya.
Pagi ini SDN Palmerah 07 Pagi masih banyak siswa yang baru tiba di sekolah pukul 07.00 dan pintu gerbang sekolah masih terbuka. Para siswa masih terlihat berbincang di depan gapura sekolah, bahkan beberapa masih ada yang membeli jajanan di luar pintu gerbang sekolah meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.30, bahkan beberapa guru pun baru tiba lebih dari pukul 06.30.
“Mungkin karena memang baru pertama kali masuk jadi masih longgar, terlambat sedikit tak apa, kalau besok mungkin sudah ketat lagi. Masih penyesuaianlah apalagi setelah libur dua minggu lebih,

7 Jalur Masuk Jadi Mahasiswa UI

Depok, Warta Kota
Ada tujuh jalur masuk untuk menjadi mahasiwa baru Universitas Indonesia (UI). Ketujuh jalur itu adalah Ujian Masuk Bersama (UMB), Prestasi dan Pemerataan Kesempatan Belajar (PPKB), Kerja Sama Daerah dan Industri (KSDI), Seleksi Masuk UI (Simak UI), jalur paralel (untuk program studi tertentu), jalur prestasi, dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNM-PTN). ”Kerja sama Daerah dan Industri (KSDI) merupakan program untuk membantu meningkatan kapasitas daerah dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, profesional, dan kompeten untuk mengisi pembangunan daerah,” kata Rektor UI di Kampus UI Depok, Selasa (6/1)
”Program ini merupakan terobosan satu-satunya di Indonesia bagi kerja sama antara lembaga pendidikan tinggi, pemerintah daerah, industri,” imbuhnya.
Memasuki tahun kedua, lanjut Gumilar, KSDI telah membuka kebuntuan daerah dalam mengisi pos-pos pemberdayaan daerah seperti dunia kesehatan, manajemen birokrasi, aparat penegak hukum, dan sebagainya. UI memberikan kesempatan luas bagi daerah untuk mengirimkan duta-duta terbaiknya agar dapat mengenyam pendidikan di universitas berkelas dunia serta membuka jaringan dan kemitraan yang akan menjadi modal pemberdayaan daerah.
Mahasiswa peserta program KSDI mendapat fasilitas yang sama seperti mahasiswa yang masuk melalui program reguler seperti SNM-PTN, SIMAK maupun PPKB (dahulu dikenal dengan nama PMDK).
Program ini seakan menjadi saksi keseriusan pemerintah daerah dalam membangun daerahnya di masa depan. Sebagai contoh, Pemda Sumba Barat Daya, yang notabene tidak memiliki anggaran pendapatan daerah yang besar, namun bertekad untuk dapat menjadi kabupaten dengan fasilitas kesehatan terbaik di kawasan provinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk itu, Pemda Sumba Barat Daya menugaskan para pejuang daerahnya untuk menimba ilmu di UI, khususnya di Fakultas Kedokteran.
Program KSDI ini dibatasi hanya untuk calon mahasiswa yang berdomisili di luar Pulau Jawa dan Bali. Mengingat, kedua kawasan ini relatif mapan menyangkut kekayaan sumber daya alam maupun manusia. Bersandar pada pengalaman di mana banyak mahasiswa daerah yang mengenyam pendidikan di Pulau Jawa, dan kemudian enggan untuk mengamalkan pengetahuannya di tempat asal setelah tamat studi, program ini memagari kemungkinan tersebut dengan adanya perjanjian hukum.
Perjanjian ini, memastikan mahasiswa program KSDI akan kembali mengabdi ke daerah asalnya. Ini menentukan ketersediaan pasokan tenaga ahli bagi daerah.
Jalur Simak UI adalah seleksi ujian masuk UI yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan yang ada di daerah. Mereka menjadi panitia lokal. Jalur ini diselenggarakan di 40 kota di Indonesia. Pendaftaran dilakukan secara online di htpp://penerimaan.ui.ac.id. Dan ujian seleksi hanya dilakukan dalam sehari saja.
Rata-rata penerimaan mahasiswa baru UI sekitar 5.500-an mahasiswa. Menurut Rektor UI, setiap penerimaan mahasiswa baru mencapai sekitar 100.000 peserta. Biaya pendaftaran jalur Simak UI dengan dua pilihan program studi sebesar Rp 200.000. Makin banyak pilihan program studi biayanya makin besar.
”Namun biaya pendaftaran boleh dikatakan habis untuk semua kegiatan pendaftaran saja,” kata Gumilar. (mir)

Kamis, 05 Maret 2009

MANAJEMEN PESERTA DIDIK dalam MENGHADAPI KREATIFITAS ANAK

MANAJEMEN PESERTA DIDIK dalam MENGHADAPI KREATIVITAS ANAK
Penulis : Khumaidi Tohar

Suatu sistem pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses belajar-mengajar berlangsung secara menarik dan menantang sehingga peserta didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan. Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan efisien perlu disusun dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan, karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.

Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pendidikan yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Manajemen pendidikan itu terkait dengan manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Fakta-fakta dilapangan ditemukan sistem pengelolaan anak didik masih menggunakan cara-cara konvensional dan lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang memberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatif peserta didik. Padahal Kreativitas disamping bermanfaat untuk pengembangan diri anak didik juga merupakan kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan, menilai dan meguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubahnya dan mengujinya lagi sampai pada akhirnya menyampaikan hasilnya. Dengan adanya kreativitas yang diimplementasiakan dalam sistem pembelajaran, peserta didik nantinya diharapkan dapat menemukan ide-ide yang berbeda dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga ide-ide kaya yang progresif dan divergen pada nantinya dapat bersaing dalam kompetisi global yang selalu berubah.

Perkembangan anak didik yang baik adalah perubahan kualitas yang seimbang baik fisik maupun mental. Tidak ada satu aspek perkembangan dalam diri anak didik yang dinilai lebih penting dari yang lainnya. Oleh karena itu, teori kecerdasan majemuk yang dikembangkan oleh psikolog asal Amerika Serikat, Gardner dinilai dapat memenuhi kecenderungan perkembangan anak didik yang bervariasi.

Penyelenggaraan pendidikan saat ini harus diupayakan untuk memberikan pelayanan khusus kepada peserta didik yang mempunyai kreativitas dan juga keberbakatan yang berbeda agar tujuan pendidikan dapat diarahkan menjadi lebih baik.

Muhibbin Syah menjelaskan bahwa akar kata dari pendidikan adalah "didik" atau "mendidik" yang secara harfiah diartikan memelihara dan memberi latihan. Sedangkan "pendidikan", merupakan tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang melalui upaya pelatihan dan pengajaran. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan tidak dapat lepas dari pengajaran. Kegiatan dari pengajaran ini melibatkan peserta didik sebagai penerima bahan ajar dengan maksud akhir dari semua hal ini sesuai yang diamanatkan dalam undang-undang no. 20 tentang sisdiknas tahun 2003; agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam pendidikan, peserta didik merupakan titik fokus yang strategis karena kepadanyalah bahan ajar melalui sebuah proses pengajaran diberikan. Sebagai seorang manusia menjadi sebuah aksioma bahwa peserta didik mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, mereka unik dengan seluruh potensi dan kapasitas yang ada pada diri mereka dan keunikan ini tidak dapat diseragamkan dengan satu aturan yang sama antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain, para pendidik dan lembaga sekolah harus menghargai perbedaan yang ada pada diri mereka. Keunikan yang terjadi pada peserta didik memang menimbulkan satu permasalahan tersendiri yang harus diketahui dan dipecahkan sehingga pengelolaan murid (peserta didik) dalam satu kerangka kerja yang terpadu mutlak diperhatikan, terutama pertimbangan pada pengembangan kreativitas, hal ini harus menjadi titik perhatian karena sistem pendidikan memang masih diakui lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang memberikan perhatian kepada pengembangan kreatif peserta didik. Hal ini terjadi dari konsep kreativitas yang masih kurang dipahami secara holistic, juga filsafat pendidikan yang sejak zaman penjajahan bermazhabkan azas tunggal seragam dan berorientasi pada kepentingan-kepentingan, sehingga pada akhirnya berdampak pada cara mengasuh, mendidik dan mengelola pembelajaran peserta didik.

Kebutuhan akan kreativitas tampak dan dirasakan pada semua kegiatan manusia. Perkembangan akhir dari kreativitas akan terkait dengan empat aspek, yaitu: aspek pribadi, pendorong, proses dan produk. Kreativitas akan muncul dari interaksi yang unik dengan lingkungannya.Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan mengujinya. Proses kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan (motivasi intristik) maupun dorongan eksternal. Motivasi intrinstik ini adalah intelegensi, memang secara historis kretivitas dan keberbakatan diartikan sebagai mempunyai intelegensi yang tinggi, dan tes intellejensi tradisional merupakan ciri utama untuk mengidentifikasikan anak berbakat intelektual tetapi pada akhirnya hal inipun menjadi masalah karena apabila kreativitas dan keberbakatan dilihat dari perspektif intelejensi berbagai talenta khusus yang ada pada peserta didik kurang diperhatikan yang akhirnya melestarikan dan mengembang biakkan Pendidikan tradisional konvensional yang berorientasi dan sangat menghargai kecerdasan linguistik dan logika matematik. Padahal, Teori psikologi pendidikan terbaru yang menghasilkan revolusi paradigma pemikiran tentang konsep kecerdasan diajukan oleh Prof. Gardner yang mengidentifikasikan bahwa dalam diri setiap anak apabila dirinya terlahir dengan otak yang normal dalam arti tidak ada kerusakan pada susunan syarafnya, maka setidaknya terdapat delapan macam kecerdasan yang dimiliki oleh mereka.

Salah satu cara dalam memecahkan masalah ini adalah pengelolaan pelayanan khusus bagi anak-anak yang punya bakat dan kreativitas yang tinggi, hal ini memang telah diamanatkan pemerintah dalam undang-undang No.20 tentang sistem pendidikan nasional 2003, perundangan itu berbunyi " warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus".

Pengertian dari pendidikan khusus disini merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan-pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pada akhirnya memang diperlukan adanya suatu usaha rasional dalam mengatur persoalan-persoalan yang timbul dari peserta didik karena itu adanya suatu manajemen peserta didik merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Siswa berbakat di dalam kelas mungkin sudah menguasai materi pokok bahasan sebelum diberikan. Mereka memiliki kemampuan untuk belajar keterampilan dan konsep pembelajaran yang lebih maju. Untuk menunjang kemajuan peserta didik diperlukan modifikasi kurikulum. Kurikulum secara umum mencakup semua pengalaman yang diperoleh peserta didik di sekolah, di rumah, dan di dalam masyarakat dan yang membantunya mewujudkan potensi-potensi dirinya. Jika kurikulum umum bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan pada umumnya, maka saat ini haruslah diupayakan penyelenggaraan kurikulum yang berdiferensi untuk memberikan pelayanan terhadap perbedaan dalam minat dan kemampuan peserta didik. Dalam melakukan kurikulum yang berbeda terhadap peserta didik yang mempunyai potensi keberbakatan yang tinggi, guru dapat merencanakan dan menyiapkan materi yang lebih kompleks, menyiapkan bahan ajar yang berbeda, atau mencari penempatan alternatif bagi siswa. Sehingga setiap peserta didik dapat belajar menurut kecepatannya sendiri.

Dalam paradigma berpikir masyarakat Indonesia tentang kreativitas, cukup banyak orangtua dan guru yang mempunyai pandangan bahwa kreativitas itu memerlukan iklim keterbukaan dan kebebasan, sehingga menimbulkan konflik dalam pembelajaran atau pengelolaan pendidikan, karena bertentangan dengan disiplin. Cara pandang ini sangatlah tidak tepat. Kreativitas justru menuntut disiplin agar dapat diwujudkan menjadi produk yang nyata dan bermakna. Displin disini terdiri dari disiplin dalam suatu bidang ilmu tertentu karena bagaimanapun kreativitas seseorang selalu terkait dengan bidang atau domain tertentu, dan kreativitas juga menuntut sikap disiplin internal untuk tidak hanya mempunyai gagasan tetapi juga dapat sampai pada tahap mengembangkan dan memperinci suatu gagasan atau tanggungjawab sampai tuntas.

Masa depan membutuhkan generasi yang memiliki kemampuan menghadapi tantangan dan perubahan yang terjadi dalam era yang semakin mengglobal. Tetapi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia saat ini belum mempersiapkan para peserta didik dengan kemampuan berpikir dan sikap kreatif yang sangat menentukan keberhasilan mereka dalam memecahkan masalah.

Kebutuhan akan kreativitas dalam penyelenggaraan pendidikan dewasa ini dirasakan merupakan kebutuhan setiap peserta didik. Dalam masa pembangunan dan era yang semakin mengglobal dan penuh persaingan ini setiap individu dituntut untuk mempersiapkan mentalnya agar mampu menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Oleh karena itu, pengembangan potensi kreatif yang pada dasarnya ada pada setiap manusia terlebih pada mereka yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa perlu dimulai sejak usia dini, Baik itu untuk perwujudan diri secara pribadi maupun untuk kelangsungan kemajuan bangsa.

Dalam pengembangan bakat dan kreativitas haruslah bertolak dari karakteristik keberbakatan dan juga kreativitas yang perlu dioptimalkan pada peserta didik yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Motivasi internal ditumbuhkan dengan memperhatikan bakat dan kreativitas individu serta menciptakan iklim yang menjamin kebebasan psikologis untuk ungkapan kreatif peserta didik di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.

Merupakan suatu tantangan bagi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia untuk dapat membina serta mengembangkan secara optimal bakat, minat, dan kemampuan setiap peserta didik sehingga dapat mewujudkan potensi diri sepenuhnya agar nantinya dapat memberikan sumbangan yang bermakna bagi pembangunan masyarakat dan negara. Teknik kreatif ataupun taksonomi belajar pada saat ini haruslah berfokus pada pengembangan bakat dan kreativitas yang diterapkan secara terpadu dan berkesinambungan pada semua mata pelajaran sesuai dengan konsep kurikulum berdiferensi untuk siswa berbakat. Dengan demikian diharapkan nantinya akan dihasilkan produk-produk dari kreativitas itu sendiri dalam bidang sains, teknologi, olahraga, seni dan budaya.

PERAN KERJA SISWA DALAM MENGUPAYAKAN PENDIDIKAN MENJADI NOMER SATU

Di sini kita ketengahkan mengenai bagaimana peran kerja murid dalam mengupayakan pendidikan ini agar pendidikan adalah nomer satu. Memang dari hal ini pentingnya pendidikan itu sangat memberikan makna yang kompeten karena didasari oleh kemampuan pola pikir murid dan juga kepribadian murid. Arti penting pendidikan itu adalah membawa sebuah kebanggaan tersendiri seperti misalnya prestasi-prestasi di sekolah, prestasi dalam tim olimpiade di luar negeri dengan prestasi ini maka murid akan membawa nama harum bangsa kita. Persolan-persoalan dalam dunia pendidikan ini sangat mengacu sekali pada kemampuan daya berpikir murid dari satu murid ke murid lainnya oleh karena ini kita akan tahu mana murid yang berprestasi dan mana murid yang tidak berprestasi.

Upaya pemerintah dalam menindak lanjuti tentang pendidikan itu pemerintah lebih melihat siswa itu dari segi sektor pergulan pendidikan dan sifat dan karakteristik murid dalam kesehariannya. Dari sini sektor pergaulan itu ada 3 yaitu pergaulan di lingkungan rumah, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah begitu juga dengan sektor pendidikan juga sama kalau sektor pendidikan dibagi 3 yaitu pendidikan dirumah, pendidikan di masyarakat dan pendidikan di sekolah. sebelum kita berlanjut ke hal berikutnya kita bahas terlebih dahulu yang pertama mengenai sektor pergaulan, sektor ini dibagi 3 yaitu dirumah,di masyarakat dan di sekolah. sektor pergaulan dirumah yaitu bagaimana dia bergaul berkomunikasi dengan keluarganya apakah dia nyaman, dapat kasih sayang ,dukungan atau tidak oleh keluarganya dalam hal ini kakak adik ayah dan ibu karena dari sektor pergaulan dirumah inilah nantinya anak ini bisa maju dan berhasil. pergaulan di masyarakat apakah dia bisa beradaptasi di masyarakat atau tidak karena masyarakat adalah kuncinya manusia itu bisa berkembang dan punya banyak teman dan juga punya rasa sopan santun, hormat menghormati dan lain sebagainya.

Sektor pergaulan di sekolah antara lain apakah dia bisa beradaptasi tidak dengan orang lain yan sama sama bersekolah disekolahnya. Sektor pendidikan ada 3 yaitu dirumah, dimasyarakat dan di sekolah. Sektor pendidikan dirumah antara lain dapat bimbingan pengajaran dari orang tua tentang didikan ajaran baik dan buruknya dan juga yang lain, sektor pendidikan dimasyarakat antara lain menyangkut tentang tata krama atau sopan santun terhadap orang yang lebih tua dan lain sebagainya, sektor pendidikan di sekolah antara lain belajar hormat menghormati dan berkumpul atau bergaul. Dari beberapa sektor yang sudah dibahas satu persatu ini dapat disimpulkan bahwa manusia itu tak luput dari orang lain dan manusia itu tidak bisa individu karena manusia itu diciptakan oleh Allah itu untuk bersama sama dengan orang lain.

Murid adalah junjungan yang patut dibanggakan karena kalau muri berprestasi dan dan meraih gelar maka murid dapat membawa nama baik keluarga masyarakat dan juga negara tercinta kita ini.Kita tahu banyak generasi mudah sekarang ini yang senangnya hura-hura yaitu sering mabuk-mabukkan dan ngedrugs, sering tawuran, berkelahi, dan lain,lain halnya. Dengan perilaku generasi mudah kita ini maka negara kita ini yang terlalu banyak dilecehkan oleh negara lain dan negara kita ketinggalan oleh negara lain mengenai permasalahan pendidikan ini. kita ini lemah karena ada barang baru masuk ke Indonesia pun ikut mencoba-coba misalnya yang tadi miras dan obat obatan terlarang ini yang beredar sekarang .

: tercabulinya hak pribadi siswa

Saya seorang siswa SMU di pati. Sekolah saya dikenal sebagai sekolah yang paling ketat peraturanya di kota saya. Saya sangat bangga dengan sekolah tersebut, karena sekolah itulah yang mengilhami saya untuk berkarya.
Disini saya akan berbicara tentang peraturan sekolahyang perlu ditiadakan. Salah satunya masalah rambut. Dilarangnya rambut gondrong merupakan salah satu peraturan yang ada di beberapa sekolah.sampai saya kelas 3smu saya belum tahu apa tujuan dilarangnya rambut gondrong. Ya, kenapa rambut gondrong tidak diperbolehkan? Bukankah Yesus maupun Einsten berambut gondrong. Bukankah hak setiap insan untuk mengatur tubuhnya, termasuk rambut tentunya. Padahal padahal memanjangkan rambut bukan hal yang nertentangan dengan ajaran agama yang saya anut.
Selama ini saya hanya memangkas rambut setelah rambut saya dipangkas oleh guru di sekolah atau setelah diancam oleh guru agar saya memangkas rambut. Tetapi itu hanya untuk menunda kegondrongan saya. Atau mungkin selama ini para guru mengajarkan pada kita bahwa rambut gondrong pasti dicurigai oleh polisi bila di sekitar kita ada kriminalitas.
Dari hal di atas mungkin dapat di peroleh kesimpulan, bahwa seharusnya peraturan sekolah hanya mengatur siswa tentang hubungan siswa dengan siswa, siswa dengan guru/karyawan sekolah, siswa dengan masyarakat di lingkunganya. Bukanya mengatur urusan pribadi siswa

Sebuah Penjara Bernama Sekolah

Saya saat ini masih dalam frame 'miris'. Pengalaman mengejutkan tentang perilaku guru pada siswanya sampai sekarang belum sebaik yang saya baca di blog Sekolah Alam, cerita-cerita di buku, dan diskusi dengan kawan-kawan di tempat kuliah atau di lembaga pendidikan unformal. Pernah, dalam hitungan 1 semester, dua kali saya meneteskan air mata di depan siswa saya sekelas. Pasalnya, mereka gaduh ketika melakukan wawancara. Salah saya juga, saya tidak memantau. Akibatnya seorang guru yang merasa terganggu dengan suara dari luar kelas itu, mendatangi saya di kelas dan bertanya di depan pintu dengan galaknya, "Pelajaran apa sih sekarang?" Sungguh sadar, itu bukan salah anak-anak. Salah guru yang lupa, bahwa mereka hanyalah anak-anak yang memang harus selalu diingatkan. Tapi, amarah dan kecewa saya meluap sehingga menjadi tangis dan tentu saja tangis itu diterjemahkan anak-anak sebagai bentuk kesalahan terbesar mereka. Dan selanjutnya, dan selanjutnya.

Pertentangan antara pendidikan yang membebaskan dengan muatan-muatan titipan dan pesanan-pesanan masa depan membuat saya sering frustasi. Siapa yang mendukung saya? Siapa yang tidak setuju dengan sikap kepala sekolah yang kelewatan kasar, menendang tubuh siswa ketika gaduh sewaktu upacara akan dimulai? Siapa yang mendukung saya, untuk mengurangi beban hidup mereka, "Tidak ada PR, anak-anak!" Siapa yang bisa kompak menentang hukuman berdiri di depan kelas selama jam pelajaran dan lari mengitari lapangan jika tidak mengumpulkan tugas? Siapa yang bisa diajak bertukar pikiran tentang sekolah yang kembali ke zaman Flinstone? Di sekolah tempat saya mengajar tidak saya temukan siapa-siapa. Akibatnya, saya sangat tidak menikmati hari-hari mengajar. Datang ketika jamnya dan segera pulang jika jam mengajar berakhir.

Jika di Sekolahku Cintaku ada PTTN, saya ingin ada juga pembebasan terhadap dogma jati diri guru, tentu saja selain arahan-arahan untuk membebaskan diri dari belenggu penjara sekolah-bukankah pengekangan sama dengan penjara? Dulu guru harus bersanggul-berkebaya, untuk yang perempuan. Sekarang? Baju safari, sepatu fantopel, tas kerja seperti menjadi atribut wajib bagi seorang guru. Image building, mungkin. Padahal.saya akan bebas berekspresi dengan pakaian sporty. Saya rasa tak masalah makan siang bareng anak-anak, kumpul dengan mereka dan mengomentari kisah seru remaja. Tak salah saya menggunakan ransel, karena di dalamnya saya bisa bawa banyak buku cerita dan benda-benda aneh untuk mereka amati. Bukankah seperti itulah seharusnya seorang guru. Apa bedanya kita dengan mereka? Sadar atau tidak, kita sering berganti posisi dengan siswa/i itu. Mereka mengajarkan banyak hal. Mereka guru dan kita murid. Tentu akan sulit bagi kita untuk mempelajari mereka dengan utuh jika terjadi dikotomi. Bukankah kita adalah kawan yang membuat mereka merasa nyaman untuk bertanya dan menjawab banyak hal dengan gaya mereka sendiri?

Sering saya berpikir, apa saya tidak dewasa? Pertanyaan ini timbul akibat tidak percaya diri terhadap cita-cita yang sengaja digantungkan setinggi langit. Haha.sekarang saya jadi tertawa sendiri. Setelah membaca buku Poile Sangupta, baru sadar. Ternyata, menjadi dewasa sering kali menjadi kejam terhadap diri sendiri dan jika kita seorang guru atau (calon) orang tua, maka kita sudah sangat kejam terhadap masa depan siswa dan (calon) anak-anak kita. Iya, kan? Orang-orang yang memformat kedewasaan seringkali malah mengabaikan hal-hal kecil dan mulia untuk dilakukan, seperti tersenyum kepada orang lain yang berlaku kocak, bertanya tentang banyak hal yang mengherankan, ikut menyumbangkan saran terhadap pemecahan masalah orang lain tanpa tendensi, dan perilaku-perilaku lain yang tulus dan spontan.

Jadi, kesimpulan saya, menjadi dewasa seharusnya menjadi lebih mengerti tentang dunia dan tidak begitu saja terpengaruh terhadap sederetan tuntutan yang sering kali tidak manusiawi. "Hei, itu! Ya, yang di sana. Kamu tertawa terus dari tadi. Apa yang lucu? Coba, konsen sedikit lah!" Ini teguran keras saya pada siswa yang bercanda ketika pelajaran dimulai.(maklumlah, lagi frustasi) Padahal, mereka kan anak-anak. Kelak mereka akan selalu konsentrasi saat konsentrasi pada pelajaran memang benar-benar dirasakan manfaatnya. Sedangkan kini? Sekolah? Ah, beraaaat! Konsentrasi? Susaaaah! Jadi pintar? Jauuuuh!

Teman, mencoba menyelaraskan antara pemenuhan terhadap muatan kurikulum yang demikian padat dengan ide-ide ini saya dan kawan-kawan di SINERGI mulai membuka Bimbel. Siswanya adalah siswa-siswa saya selama di SD. Ortu percaya saya bisa membuat mereka merasa, bahwa belajar itu menyenangkan. Akhirnya, mereka dikirim ke rumah saya untuk Bimbel. Satu cerita yang membuat saya jadi makin prihatin. Siswa di Bimbel kami hanya 3 orang. Salah satunya tidak mau digabung dengan yang lain. Nama anak lucu dan menggemaskan itu Aditya. Hampir tiap datang, salah satu bab pada buku PR terbitan Epsilon sudah selesai dikerjakan. Adit datang dengan cengirannya yang khas. Saya merasa Adit yang mempunyai sejarah lima sebanyak 5 mata pelajaran dan terancam tinggal kelas ini sudah mulai ada peningkatan. Tapi, suatu hari Bunda Adit telepon sambil menahan tangis. Beliau mengadukan Adit tidak mengerjakan PR tiga kali dan tugas di kelas tidak selesai juga. Padahal, sekolah baru efektif-setelah liburan semester, selama kurang dari satu bulan. "Bisa-bisa dia tidak naik, Bu!" Sebuah vonis yang menakutkan baik bagi siswa, orang tua, dan guru.

Saya gemas. Ingin rasanya kusulap sebuah sekolah yang menyenangkan bagi anak-anak. Sebuah sekolah yang semua programnya disambut dengan ceria dan mereka berlomba-lomba untuk mengajak orang-orang di sekitarnya dengan bahagia untuk mendengarkan pengalaman bersekolah. Mereka akan bercerita tentang petualangan bersama gurunya, tentang pemberian sumbangan, tentang penghargaan terhadap karya, tentang perencanaan kegiatan belajar, tentang diskusi di pinggir sungai kecil, dan sebagainya, dan sebagainya. Mereka hidup. Mereka tak takut dengan masa depan dan kedewasaan.

Insyaallah ini bukan sekadar mimpi. Kelak, anak-anak di banyak tempat akan bersorak, "Ayooo seeekooolaaah!!!"

BELAJAR BERFIKIR DENGAN MELIBATKAN OPERASI MENTAL

BELAJAR BERFIKIR DENGAN MELIBATKAN OPERASI MENTAL
BY: MICKAUS GOMBO, S.Pd
Penulisnya adalah pemerhati pendidikan dan praktisi pendidikan

Jika kita duduk sejenak dan mengamati kondisi perkembangan pendidikan yang ada dinegara kita dan lebih terutama pada hasil belajar dari peserta didik pada berbagai jenjang pendidikan, maka dapat disayangkan. Mengapa demikian, karena dari sekian tadik yang tersebar dan menekuni diberbagai jenjang pendidikan jika dievaluasi hasilnya, maka hampir ¼ % persen dari suatu jenjang pendidikan yang dapat memperoleh predikat kelulusan yang dikelompokkan bagus (memuaskan) dan selanjut sebagian itu hanya selesai dengan kemampuan dibawah rata-rata dari standar yang diharapkan oleh masing-masing lembaga pendidikan berdasarkan standar nasional. Untuk mengetahui faktor penyebab turunnya mutu pendidikan yang ada maka letaknya ternyata pada:

1. Faktor Guru

Dalam hal ini guru harus memiliki peran ganda.Maksudnya guru harus inovatif, yaitu mencari dan terus mencari hal-hal baru ( current ivent case ) untuk membekali diri dalam mendayung awal kepada peserta didik sebagai tumpangannya. Sebagai guru dalam hal ini ibarat seperti pendayung perahu dan siswa sebagai tumpangannya, sehingga guru harus mendayung dan guru tersebut mencari metode-metode dan kaidah-kaidah secara tepat, agar perahu yang didayung segera ke tepi danau atau sungai. Dimaksudkan oleh penulis adalah guru harus menjadi seorang model yang baik, agar siswa dapat meniru dan memberikan spirit dengan gaya pribadinya. Guru diharapkan juga menjadi sumber referensi hidup (Life Reference sourch) dimana guru minimal mampu menjadi sumber inspirasi pendidikan dan berusaha selalu menanam budaya membaca dan berusaha menulis serta mengkaji setiap peristiwa yang berhubungan dengan profesi dirinya. Adapun beberapa tips atau tugas guru/pengajar yang harus dilakukan yaitu:

a. Ajari dan melatih siswa untuk bagaimana siswa itu dapat membaca suatu naskah atau suatu pertanyaan secara sistematis bukan impulsif. Mengapa demikian? Karena siswa tidak membaca secara sistematis, maka apa yang dibaca tidak akan dipahami secara baik dan akhirnya tidak dapat memberi jawaban, kesimpulan serta keputusan yang pasti(benar). Saya selaku pengajar dalam bidang studi matematika saya coba hendak memberi contoh berdasarkan hasil pengalaman mengajar dibawah ini, yaitu tadik selain mengenal dan menghafal model, kami juga melatih dan mengajarkan bagaimana mereka mengoperasikan mental mereka kedalam mencari atau memecahkan suatu masalah. Selain diajarkan operasi mental mereka, juga mengajarkan metode serta kaidah-kaidah yang berhubungan dengan content materi.

Contoh dalam matematika seperti ini. Saya beri persamaan linear seperti . Dan bentuk seperti ini banyak guru matematika hanya memperkenalkan tentang bentuk/model saja, tanpa memperkenalkan atau menjelaskan maksud yang terkandung pada simbol-simbol persamaan linear itu, maka hal ini kebanyakan tadik tidak mengetahuinya.

Maka dalam tulisan ini saya berikan usul kita mengajak siswa bahwa simbol yang kita sebut dengan variabel x itu merupakan mewakili dari suatu benda atau suatu ide. Saya usul pula kepada pengajar siapun, jikalau mejelaskan kepada tadik harus mengatakan bahwa jika kita menulis hal seperti itu membutuhkan waktu dan tempat, sehingga cukup mewakilkan dengan suatu huruf yang kita sebut dengan variabel/peubah, agar mereka tidak menghafalkan letak dan susunan serta lambangnya saja, tetapi terlebih dari itu mereka harus mengetahui makna yang tersirat dalam lambang-lambang itu. Dengan demikian konsep matematika dapat dipahami secara benar dan baik oleh tadik.

Misalkan benda itu seperti ini:

1 ikat kangkung tambah 2 ikat kangkung tambah 3 ikat kangkung
Supaya lebih mudah, cukup kita wakilkan kangkung dengan huruf x
Jika ide diatas kami susun secara matematis dengan simbol tertentu, maka susunannya seperti dibawah ini:
1.x + 2.x + 3.x atau X + 2X + 3X dengan keterangan sebagai berikut:
X = Variabel X; X = banyaknya nama jenis ikatan kangkung
1,2,3 = konstanta banyaknya ikatan kangkung.
Contoh lain: Melihat suatu barisan dengan pola dan kaidah tertentu seperti ini. 1, 2, 4, 8, ... , .....; Maksudnya supaya bagaimana tadik menemukan solusi dengan cara melibatkan operasi mental. Operasi mental ini tak dapat berdiri sendiri, namun dalam operasi mental seseorang harus diawali dengan pola-pola tertentu secara logis dan sistematis serta digunakan dengan metode-metode tertentu sesuai dengan skop pembicaraan/pembahasan. Pola diatas dapat dilihat lebih lanjut seperti ini; 1x2=2, 2x2=4, 2x4=8,....,2x16=32, dst. Selanjut menemukan suatu ide baru yang disebut dengan mewakili seperti yang kami singgung diatas. Bentuk ide seperti inilah disebut rumus/formula. Berdasarkan pola penyelesaian diatas dapat ditetapkan rumus seperti dibawah ini: n x 2 = ..., n bisa diganti dengan apa saja entah bilangan atau sesuatu yang lain dengan keterangan jelas serta mempunyai kondisi atau persyaratan tertentu supaya mempunyai nilai dan arti. Dalam pemecahan-pemecahan ini peserta didik kerap kali menggunakan metode-metode tertentu sesuai dengan sifat materi dan dalam hal seperti ini disebut â?o Algoritma â?o
( W.S.Winkel 16:1987 )

2. Faktor Fasilitas

Faktor fasilitas juga dapat mempengaruhi pembentukan pikiran tadik, sebab dimana fasilitas yang memadai proses Belajar mengajarpun dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Sebab kondisi fasilitas yang dapat membentuk pribadi dalam mengundang motivasi dan minat belajar semakin meningkat. Fasilitas yang dimaksudkan oleh penulis disini adalah baik itu sarana maupun prasarana yang ada pada tempat belajar siswa atau tadik itu sendiri. Misalkan dalam mempelajari IPA harus ada LAB IPA, dengan tujuan agar mempelajari sesuatu hanya dengan ceritera atau teori saja sulit dipahami serta sulit dibayangkan penjelasan guru, maka perlu adanya kegiatan nyata dengan cara mengekspose benda yang diceritera atau dijelaskan kepada tadik.

Dengan cara mereka melihat, meraba, atau mencium mereka dapat membayangkan dan menghubungkan pikiran-pikiran yang pernah pelajari atau pernah melihat sebelumnya dengan benda yang ia melihat sekarang. Disinilah peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar baru yang lebih komplite, maka secara tidak langsung proses operasi pembentukan mental sedang terjadi saat itu juga.

3. Faktor Kesiapan MENTAL Tadik

Selain kedua faktor diatas adapula satu faktor yang sangat mempengaruhi dalam pembentukan pikiran dengan melibatkan operasi mental, yaitu faktor kesiapan oleh para warga belajar atau siswa itu sendiri, sebab perlu diketahui bahwa peserta didik ibarat seperti ember kosong yang siap diisi air dan metode/pendekatan hanya sebagai corong yang menghubungkan, serta guru ibarat sebagai mesin penggeraknya.

Dengan demikian tadik siap memfokuskan pikiran ketika guru menjelaskan atau menyiram pelajaran yang disiapkan oleh guru itu sendiri. Dalam hal ini guru diharapkan mencari metode-metode dan pendekatan untuk membangkitkan motivasi dan minat pada bidang yang ditekuninya. Untuk lebih menarik dan tidak membosankan kami menyisipkan sebuah proses secara skematis dibawah ini.


Demikian tulisan sederhana ini kami naikan semoga tulisan ini mempunyai nilai sumbang bagi pengembangan pendidikan dinegara RI dan dapat memberikan kontribusi bagi reader dinegeri ini terutama teman-teman seprofesi diseantero negeri ini.

BAGAIMANA MENGAJAR ANAK CERDAS ISTIMEWA ?

CERDAS ISTIMEWA?

Menurut Renzuli, anak cerdas istimewa adalah anak yang memiliki tiga komponen diatas rata-rata teman sebaya, yaitu Intellegence Quotient lebih dan sama dengan 130,Task Comitment dan Creativity Quotient diatas rata - rata (3). Dengan alat ukur ini maka siswa berhak mendapatkan pelayanan pendidikan khusus yang bersifat individual untuk lebih memaksimalkan kemampuan mereka. Masalahnya muncul karena masih banyak guru yang belum mengenal karakteristik anak cerdas istimewa dan bentuk pelayanan yang tepat untuk memaksimalkan potensi terpendam mereka. (amanat Undang-undang No.2 Th 1989 tentang Sisdiknas pasal 24 ayat 6 dan Undang-undang Sisdiknas No.20 Th 2003 pasal 5 ayat 4).

Guru dapat melakukan pengamatan dini dengan memperhatikan beberapa karakteristik seperti diatas. Beberapa karakteristik lainnya diantaranya adalah seperti yang diungkap Prof. Dr. S.C. Utami Munandar yaitu mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat. Namun selain karakteristik positif diatas, anak cerdas istimewa juga memiliki karakter negatif diantaranya tidak sabaran, tidak suka campur tangan orang lain, tidak suka hal yang rutin, sensitif dan menyukai berpikir kompleks.

BAGAIMANA MEMPERLAKUKAN MEREKA?

Karena mendapatkan pelayanan khusus merupakan hak mereka, maka semua sekolah wajib melakukan perbaikan dan pembenahan dalam menangani anak cerdas istimewa. Memang ada beberapa sekolah yang melaksanakan program akselerasi sebagai salah satu bentuk layanan pendidikan bagi anak cerdas istimewa, namun keberadaan mereka yang mungkin ada di setiap populasi (hasil penelitian menyebutkan 2 - 5 % dari jumlah populasi potensial cerdas istimewa) masih belum dapat merasakan pelayanan yang tepat, maka semua sekolah wajib memberikan layanan kepada mereka dengan maksimal.

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan pendampingan pendidikan kepada anak cerdas istimewa diantaranya adalah :

Pertama, kurikulum yang dipakai adalah kurikulum nasional dan lokal yang telah dimodifikasi dengan memasukan unsur pengayaan, pendalaman dan pemilihan materi essensi sehingga kurikulum dapat bersifat fleksibel dan mampu merangsang daya kreatif siswa. Kurikulum ini disebut dengan kurikulum berdiferensiasi. Guru dituntut untuk dapat melakukan rekayasan kurikulum secara cerdas sehingga memungkinkan guru dan siswa melakukan improvisasi dalam kegiatan belajar.

Kedua, metode pembelajaran. Karena karakteristik anak cerdas istimewa salah satunya adalah cepat bosan dan senang melakukan proyek sendiri, maka guru dituntut untuk kreatif dan cepat tanggap terhadap tingkat kebutuhan siswa. Siswa cerdas istimewa cenderung mudah bosan dengan materi yang bersifat hapalan dan banyak menulis. Memberikan tugas atau proyek dengan skala besar dan membutuhkan perhatian yang ekstra dan menantang sangat digemari mereka. Misalnya menugaskan siswa untuk mempersiapkan materi tertentu untuk kemudian mereka presentasikan di depan teman-temannya.

Ketiga, evaluasi. Evaluasi siswa cerdas istimewa harus dibedakan dengan siswa lainnya. Untuk mereka guru tidak bisa hanya menggunakan satu jenis tes seperti "pen and paper test". Guru bisa menguji mereka dari kemampuan presentasi, cerita, pentas drama, proyek, lisan, quiz atau membaca buku dengan bobot nilai diperlakukan dengan ulangan harian. Untuk memberi score pun lebih baik tidak terpaku pada angka 100, namun guru dapat memberikan nilai 120 atau 130 apabiila siswa mampu memberi jawaban lebih dari yang diharapkan. Hal ini akan meningkatkan motivasi mereka untuk meraih nilai optimal.

PENUTUP

Akhirnya, bagaimanapun sekolah dan guru harus mampu memberikan layanan pada siswa cerdas istimewa karena itu adalah hak bagi mereka. Juga keberadaan mereka yang selama ini termarginalkan dapat lebih eksis dan mampu menjadikan diri mereka sebagai asset bangsa di masa depan.

Pelayanan kepada siswa cerdas istimewa ini pun sejalan dengan program pendidikan inklusi yang memberikan perlakukan sama kepada semua siswa dengan berbagai ciri dan karakter yang berbeda di semua sekolah